Promo Gratis ongkir hingga Rp 10.000 ยท min. belanja Rp 99.000
Face Care

Apakah Stres Benar-Benar Bisa Bikin Jerawat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

02 July 2026 01:58:00 Bhumi
Apakah Stres Benar-Benar Bisa Bikin Jerawat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Menjelang ujian, deadline pekerjaan, atau masa-masa penuh tekanan tiba-tiba jerawat bermunculan. Kebetulan? Atau memang stres benar-benar bisa memicu jerawat?

Ternyata, hubungan antara stres dan jerawat bukan sekadar perasaan atau kebetulan. Ada mekanisme biologis nyata di baliknya. Mari kita bahas apa yang sebenarnya terjadi di tubuhmu saat stres, dan bagaimana itu mempengaruhi kulit.

 

Jawaban Singkat: Ya, Stres Mempengaruhi Jerawat

Penelitian telah menunjukkan hubungan yang jelas antara stres dan jerawat. Sebuah studi terkenal pada mahasiswa menemukan bahwa jerawat memburuk secara signifikan selama periode ujian saat tingkat stres paling tinggi.

Tapi penting dipahami: stres tidak "menciptakan" jerawat dari nol. Stres memperparah kecenderungan jerawat yang sudah ada dengan memicu serangkaian reaksi biologis di tubuh.

 

Mekanisme: Bagaimana Stres Memicu Jerawat

1. Hormon Kortisol Meningkat

Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol (hormon stres). Kortisol memicu beberapa efek yang buruk untuk kulit:

  • Meningkatkan produksi sebum kelenjar minyak bekerja lebih aktif, menciptakan lingkungan yang mendukung jerawat
  • Meningkatkan peradangan memperparah jerawat yang sudah ada
  • Mengganggu skin barrier membuat kulit lebih rentan

2. Peningkatan Androgen

Stres juga bisa memicu produksi androgen (hormon yang juga terkait jerawat hormonal). Androgen merangsang kelenjar sebaceous untuk memproduksi lebih banyak minyak.

3. Peradangan Sistemik

Stres kronis meningkatkan peradangan di seluruh tubuh, termasuk kulit. Karena jerawat pada dasarnya adalah kondisi inflamasi, peningkatan peradangan ini memperparah jerawat.

4. Memperlambat Penyembuhan

Stres memperlambat kemampuan kulit untuk menyembuhkan diri. Ini berarti jerawat yang ada butuh waktu lebih lama untuk sembuh, dan bekas jerawat lebih lama memudar.

 

Lingkaran Setan Stres dan Jerawat

Yang membuat hubungan ini rumit adalah siklus yang saling memperkuat:

  1. Stres memicu jerawat
  2. Jerawat membuat kamu lebih stres (terutama untuk usia muda yang peduli penampilan)
  3. Stres tambahan memperparah jerawat
  4. Dan seterusnya...

Memutus siklus ini membutuhkan pendekatan dari dua sisi: mengelola stres DAN merawat kulit dengan tepat.

 

Perilaku Terkait Stres yang Memperparah Jerawat

Selain efek hormonal langsung, stres juga memicu perilaku yang buruk untuk kulit:

  1. Menyentuh dan memencet wajah Saat cemas, banyak orang tanpa sadar menyentuh atau memencet jerawat memindahkan bakteri dan memperparah peradangan.
  2. Mengabaikan rutinitas skincare Saat sibuk dan stres, skincare sering terlupakan atau dilakukan asal-asalan.
  3. Pola makan buruk Stres sering memicu "stress eating" makanan manis dan tinggi karbohidrat yang bisa memperparah jerawat.
  4. Kurang tidur Stres mengganggu tidur, dan kurang tidur memperburuk jerawat (lebih lanjut di artikel terpisah).
  5. Mengabaikan asupan air Saat sibuk, sering lupa minum cukup air.

 

Cara Mengelola Stres untuk Kulit yang Lebih Baik

Mengelola stres bukan hanya baik untuk kesehatan mental tapi juga untuk kulit. Beberapa strategi yang bisa membantu:

1. Aktivitas Fisik Teratur

Olahraga menurunkan kortisol dan meningkatkan endorfin. Bahkan jalan kaki 30 menit sehari bisa membantu. (Ingat cuci muka setelah berkeringat!)

2. Tidur yang Cukup

Tidur 7–9 jam membantu menstabilkan hormon dan memberi kulit waktu untuk regenerasi.

3. Teknik Relaksasi

Meditasi, pernapasan dalam, atau yoga terbukti menurunkan tingkat stres. Bahkan 10 menit sehari bisa berdampak.

4. Batasi Kafein dan Gula

Keduanya bisa meningkatkan respons stres tubuh. Kurangi terutama saat sedang dalam periode tekanan tinggi.

5. Kelola Waktu dengan Baik

Banyak stres berasal dari merasa kewalahan. Perencanaan dan manajemen waktu yang baik mengurangi tekanan.

6. Jangan Sentuh Wajah

Sadari kebiasaan menyentuh wajah saat cemas. Ini butuh kesadaran aktif, tapi sangat membantu.

 

Tetap Rawat Kulit Meski Sedang Stres

Justru saat stres adalah waktu paling penting untuk konsisten dengan skincare. Tapi buat rutinitas yang realistis:

Versi minimal saat sangat sibuk/stres:

  • Pagi: Cuci muka + moisturizer + sunscreen
  • Malam: Cuci muka + moisturizer + spot treatment kalau perlu

Rutinitas 3 langkah ini cukup untuk menjaga kulit saat kamu tidak punya energi untuk yang lebih kompleks. Konsistensi dengan yang sederhana mengalahkan rutinitas kompleks yang diabaikan.

Fokus pada bahan menenangkan: Saat stres memperparah peradangan, bahan seperti centella asiatica dan niacinamide membantu menenangkan kulit.

 

Kapan Perlu Bantuan Profesional

Kalau stres yang kamu alami:

  • Berkepanjangan dan sulit dikelola sendiri
  • Mempengaruhi kualitas hidup secara signifikan
  • Disertai gejala kecemasan atau depresi

Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental. Mengelola stres dari akarnya tidak hanya membantu kulit, tapi kesehatan secara keseluruhan.

Untuk jerawat yang parah akibat stres, konsultasi dengan dermatolog juga bisa membantu.

 

Kesimpulan

Stres benar-benar bisa memicu dan memperparah jerawat bukan mitos, tapi fakta yang didukung sains. Melalui peningkatan kortisol, androgen, dan peradangan, stres menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan jerawat.

Kabar baiknya: dengan mengelola stres (olahraga, tidur cukup, relaksasi) dan tetap konsisten dengan skincare bahkan versi minimalnya kamu bisa memutus lingkaran setan stres dan jerawat.

Ingat: merawat kesehatan mental adalah bagian dari merawat kulit. Keduanya saling terhubung lebih erat dari yang sering kita sadari.

 

Saat stres memperparah kulit, dukung dengan produk menenangkan dari Bhumi yang mengandung centella dan niacinamide → bhumi.co.id/moisturizer

Topik ini menyinggung kesehatan mental. Kalau kamu merasa kewalahan dengan stres atau kecemasan, mencari dukungan dari profesional kesehatan mental atau orang yang kamu percaya adalah langkah yang baik.